LIPUTANIA – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (4/11/2026). Mata uang Garuda mengakhiri perdagangan di level Rp18.155 per dolar AS, melemah dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah terkoreksi sebesar 0,11% dari posisi Selasa (3/11/2026) yang berada di level Rp18.135 per dolar AS.
Sepanjang perdagangan, pergerakan rupiah berada dalam rentang Rp18.100 hingga Rp18.180 per dolar AS. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang domestik masih berlanjut meskipun dolar AS justru mengalami pelemahan di pasar global.
Dolar AS Melemah, Rupiah Belum Berhasil Menguat
Pada pukul 15.00 WIB, indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) tercatat turun 0,45% ke posisi 101,405. Indeks tersebut menjadi salah satu indikator untuk mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia.
Namun, pelemahan indeks dolar belum memberikan dorongan yang cukup bagi rupiah untuk kembali bergerak positif. Nilai tukar rupiah justru tetap berada dalam tekanan hingga penutupan perdagangan.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa pergerakan mata uang domestik tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi dolar AS, tetapi juga berbagai sentimen eksternal yang memengaruhi pasar keuangan global.
Bank Indonesia Ungkap Faktor yang Menekan Rupiah
Tekanan terhadap rupiah turut menjadi perhatian Bank Indonesia (BI). Otoritas moneter menilai pelemahan mata uang Garuda dalam beberapa waktu terakhir dipengaruhi oleh perkembangan eksternal, terutama dinamika geopolitik dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan bahwa rupiah sempat menunjukkan penguatan hingga berada di kisaran Rp17.800 per dolar AS pada akhir September 2026.
Akan tetapi, memasuki Oktober, nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan yang berlanjut hingga awal November.
“Pelemahan dipengaruhi eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, pengetatan kebijakan moneter AS dan sentimen investor global terhadap aset negara berkembang,” ujar Destry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Selasa (3/11/2026).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ketidakpastian global masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah. Ketegangan geopolitik dan kebijakan moneter AS dapat memengaruhi keputusan investor dalam menempatkan dana pada berbagai instrumen investasi, termasuk aset di negara berkembang.
Pasar Menanti Data Perdagangan Amerika Serikat
Selain perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter, pelaku pasar juga mencermati data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat.
Salah satu perhatian utama tertuju pada laporan neraca perdagangan AS periode September 2026 yang dijadwalkan dirilis pada Rabu (4/11/2026) pukul 20.30 WIB.
Data tersebut menjadi penting karena dapat memberikan gambaran mengenai kondisi aktivitas perdagangan negara tersebut sekaligus menjadi salah satu pertimbangan investor dalam membaca arah perekonomian AS.
Sebagai perbandingan, defisit perdagangan AS pada Agustus 2026 tercatat melebar menjadi US$105,6 miliar, meningkat dari US$92,8 miliar pada Juli. Angka tersebut juga menjadi defisit terbesar sejak Maret 2025.
Pelebaran defisit terjadi setelah nilai impor meningkat US$17,2 miliar hingga mencapai rekor US$420,8 miliar. Sementara itu, ekspor hanya bertambah US$4,5 miliar menjadi US$315,2 miliar.
Rilis data perdagangan terbaru tersebut akan menjadi perhatian pasar untuk melihat apakah defisit AS kembali mengalami pelebaran atau justru mulai menyempit.
Perkembangan itu juga berpotensi memengaruhi sentimen investor terhadap dolar AS dan pergerakan mata uang global, termasuk rupiah. Dengan berbagai faktor eksternal yang masih membayangi pasar, arah nilai tukar rupiah selanjutnya akan turut dipengaruhi oleh respons investor terhadap perkembangan ekonomi dan geopolitik dunia.
Sumber: cnbcindonesia